Jumat, 07 Maret 2014

My Curruculum Vitae




Makna Etika dan Profesi


Mengenai apa itu etika, yang pertama terlintas dalam pikiran saya yaitu langsung tertuju pada nilai benar dan salah dalam suatu sikap, tindakan dan pekerjaan yang kita lakukan. Bagi diri saya pribadi mata kuliah etika profesi sangatlah penting untuk kita pahami dan kita amalkan dengan betul dalam setiap sikap dan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih-lebih dengan etika yang sangkut-pautnya dengan suatu profesi tertentu. Kenapa demikian? Karena pada dasarnya kesadaran akan pentingnya etika profesi sangatlah harus dimiliki bagi mereka yang mengaku memiliki profesi dalam kehidupanya. Kita harus mengerti mana hal yang baik dan mana hal buruk dalam melakukan pekerjaan, pengambilan sikap dan keputusan khususnya bagi seorang rekayasawan. Suatu profesi hanya akan memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para profesional itu sendiri telah tertanam kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika yang ada pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian mereka kepada kalangan masyarakat yang memerlukannya. Tanpa adanya etika profesi, apa yang sebelumnya dikenal sebagai suatu profesi yang terhormat akan segera berubah menjadi sebuah mata pencaharian yang biasa dan berdampak tidak adanya lagi kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada para profesional itu.
Apa itu Etika? Menurut apa yang pernah disampaikan oleh Bapak Ir. Slamet Basuki, M. Si bahwa etika adalah  ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk yang dilakukan manusia secara sadar. Berbeda dengan istilah etiket, etiket merupakan istilah lain dari sopan santun. Asal usul kata tersebut sebenarnya tidak memiliki hubungan sama sekali, namun dari pandangan artinya ada kedekatan, bahkan terkadang orang salah kaprah mengenai artinya. Etika dan etiket memiliki persamaan yaitu keduanya menyangkut perilaku manusia dan keduanya sama-sama mengatur perilaku manusia secara normatif (apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan). Sedangkan perbedaannya yaitu etiket merupakan hal yang menyangkut bagaimana cara seharusnya pada saat kita melakukan suatu perbuatan. Contohnya yaitu menyerahkan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kanan. Kemudian etiket hanya berlaku dalam suatu pergaulan, yang berarti jika kita sendirian, etiket tidak berlaku lagi. Etiket bersifat relative, yaitu berlaku hanya pada suatu kebudayaan tertentu. Perbedaan lainnya adalah etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriahnya saja, lain halnya dengan etika yang menyangkut segi batiniah.

Etika  itu sendiri akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Dengan adanya pemahaman etika yang benar, maka hal itu akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional dan umum dinilai menyimpang dari kode etik mereka, walaupun sifat sanksi dari etika itu tidak bisa dipaksakan. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Dilain istilah yang sangat dekat dengan etika yaitu moral. Moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Ada juga yang disebut dengan amoral dan immoral. Amoral adalah tingkah laku yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan konteks moral. Amoral menyatkan suatu tingkah laku diluar suasana etis atau bisa kita sebut hal yang bernilai non moral. Sedangkan immoral adalah tingkah laku yang bertentangan dengan moralitas yang baik, atau bisa dikatakan tingkah laku perbuatan yang secara moral dikatakan buruk dan tidak etis.
Etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral. Ada berbagai pendekatan untuk mempelajari itu, yang sering digunakan antara lain adalah melalui pendekatan etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika.
      a.       Etika deskriptif
Etika deskriptif menggambarkan suatu tingkah laku moral dalam arti yang luas, misalnya : adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan dsb. Etika deskriptif ini mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu dan dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur tertentu dalam suatu periode sejarah. Pada dasarnya etika deskriptif hanya melukiskan namun tidak memberikan penilaian.
      b.      Etika normatif
Disini para ahli berdiskusi tentang masalah-masalah moral, mereka tidak hanya sebagai penilai yang netral saja, namun mereka juga melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia. Hal-hal moralitas yang ada pada kebudayaan-kebudayaan dimasa lampau yang dianggap tidak baik dan tidak sesuai dengan martabat manusia ditentangnya. Penilaian mereka didasarkan atas norma-norma-norma martabat manusia yang harus dihormati.
      c.       Metaetika
Meta berasal dari bahasa Yunani yang artinya melebihi atau melampaui. Istilah ini diciptakan untuk menunjukan bahwa yang dibahas disini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Metaetika seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu taraf “bahasa etis” atau bahasa yang kita gunakan di bidang moral. Dapat dikatakan bahwa metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Metaetika mengarahkan perhatiannya kepada arti khusus dari bahasa etika.

Sekarang, apa itu profesi? Profesi adalah pekerjaan atau keahlian seseorang dalam bidang tertentu yang mereka jadikan jalan untuk mencari penghidupan. Dalam makna profesi yang terbaru, sebuah jabatan dapat dikatakan sebagai suatu profesi jika telah memnuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
    1.      Pekerjaan itu melibatkan penggunaan ketrampilan, penilaian, kearifan yang canggih, yang tidak sepenuhnya rutin atau dapat digantikan dengan mekanisasi.
     2.      Untuk menekuni profesi tersebut, seseorang membutuhkan jenjang pendidikan formal yang ekstensif. Secara umum juga dibutuhkan usaha untuk mengaktualkan pengetahuan-pengetuahuan.
Organisasi-organisasi khusus yang mengatur para anggota profesi yang bersangkutan diizinkan oleh publik untuk memainkan peranan yang besar dalam menetapkan standar-standar penerimaan ke dalam profesi tersebut, menyusun kode etik, memberlakukan standar perilaku, dan mewakili profesi itu dihadapan publik dan pemerintah.
Apa itu profesional? Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerajaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa “pekerjaan/profesi” dan “profesional” terdapat beberapa perbedaan :
a. Profesi :
- Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
- Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
- Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.
- Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

b. profesional :
- Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.
- Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
- Hidup dari situ.
- Bangga akan pekerjaannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa peranan etika dalam suatu profesi, antara lain :
• Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama.
• Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.

• Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.

(definisi dan materi diambil dari berbagai sumber, sayangnya si penulis lupa :D)

Pengukuran Sudut Repetisi Theodolite FK


 A.    Tujuan
      Untuk mengetahui sudut dengan pengukuran secara repetisi

B.     Tempat & Tanggal
     Tempat  : halaman belakang fakultas Geodesi & Geomatika
     Tanggal : Kamis, 18 Oktober 2012

C.     Peralatan yang digunakan
1.      Teodolit fannel Kassel ( jenis besar, 1 buah )
2.      Statip ( 1 buah )
3.      Unting-unting beserta benangnya ( 3 buah )
4.      Tripod / kaki tiga ( 2 buah )
5.      Patok / paku paying ( 3 buah )

D.    Langkah kerja
            Menentukan 3 buah titik kemudian berikan tanda pada titik B.
                                     
1.   Dirikan satif di titik B, atur sentering dengan bantuan unting-unting sehingga lurus tepat di atas titik B. buat kepala statip sedater mungkin dan setinggi dada praktikan. Setelah sentering pasang teodolit di atas kepala statip, atur sentering sehingga sumbu I vertical.

2.      Bidik titik A. dengan skrup klem dan penggerak halus limbus, bacaan pada titik A dapat di atur agar menjadi nol atau anggka yang lain. Bacaan ini = p
3.      Matikan klem limbus dan buka klem horizontal. Bidik teropong pada titik C. setelah tepat, matikan klem horizontal. Baca q, dan di peroleh sudut β.
4.      Bawa pembacaan q ke pembidikan A dengan cara membuka klem limbus. Setelah tepat, matikan klem limbus.
5.      Buka klem horizontal, bidikan teropong pada titik C. dengan cara ini, akan di dapatkan sudut β lagi. Lakukan kegiatan ini 3 kali sehingga di dapat sudut 3 sudut β.


F.    Analisa data

Data dibawah ini diperoleh dari hasil pengamatan kami di beberapa kelompok dikarenakan kalompok kami tidak mendapatkan pinjaman alat.


1.      β kasar = 234˚00’00” - 187˚12’00” = 46˚48’00”

m = 234˚00’00” + 3 x 46˚48’00” = 1,04 dibulatkan menjadi 1
                        360˚

jadi β, = 280˚48’00” - 187˚12’00” + (1 x 360˚)    = 151˚12’00”
                                   3                                                  
  
2.      β kasar = 138˚23’00” - 69˚11’40” = 69˚11’20”

m = 138˚23’00” + 3 x 69˚11’20” =  0.96
                       360˚

Jadi β, = 207˚35’10” - 69˚11’40” + (0 x 360˚)  = 46˚7’50”
  3


3.      β kasar = 330˚00’00” - 180˚00’00” = 150˚00’00”

m = 180˚00’00” + 3 x 150˚00’00” = 1.75
                         360˚

Jadi β, = 45˚00’00’’ - 180˚00’00” + (1 x 360˚) = 75˚00’00”
                                    3

4.      β kasar = 124˚58’40” - 62˚29’20” = 62˚29’20”

m = 124˚29’20” + 3 x 62˚29’20” = 0,86
                        360˚
Jadi β, = 187˚28’00” - 62˚29’20” + (0 x 360˚) = 41˚39’33,33”
                                        3
5.      β kasar = 103˚52’00” - 51˚56’00” = 51˚56’00”

m = 103˚52’00” + 3 x 51˚56’00” = 0,72
                         360˚

Jadi β, = 155˚48’00” - 51˚56’00” + (0 x 360˚) = 34˚37’20”

                                          3
      G.    Kesimpulan
Dari praktikum yang telah kita lakukan, kita dapat mengetahui sudut dalam horizontal dengan metode pengukuran repetisi. Adapun keuntungan dari penerapan metode pengukuran repetisi ini yaitu kita dapat menghilangkan kesalahan akibat pembagian bacaan yang tidak rata.


Pengecekan Penyipat Datar (WP) dan Pengukuran Beda Tinggi (Levelling)

  A. Judul
Pengecekan Alat Ukur Penyipat Datar dan Pengukuran Beda Tinggi (Levelling)
      B. Tempat dan tanggal
Ø  Tempat             :     halaman belakang Fak. Geodesi & Geomatika
Ø  Waktu              :     pukul 08.00 s.d 11.50 WIB
Ø  Tanggal            :     11 dan 15 Oktober 2012
      C. Tujuan
1.      Praktikan dapat melakukan pengecekan alat ukur sipat datar (waterpass) dengan syarat utama waterpass yaitu garis bidik telah sejajar dengan garis arah nivo dengan metode perhitungan tertentu.
2.      Praktikan dapat melakukan pengukuran beda tinggi dengan metode leveling menggunakan waterpass.
     E.  Peralatan yang digunakan :
1.      Waterpass/Penyipat datar             1 bh     (Sakkisa 226863 BIC)
2.      Statip                                             1 bh
3.      Rambu ukur                                  2 bh
4.      Pita ukur                                        1 bh
5.      Patok/ paku paying                       secukupnya
     G. Langkah kerja
I.         Pengecekan Penyipat Datar

1.      Menentukan 3 titik P, A, Q dan B (Gambar 1) dengan jarak antar titik masing-masing  +/- 30 meter dengan bantuan pita ukur. Berikan tanda pada titik dengan patok atau paku payung.
2.      Dirikan rambu di titik P dan Q, sedangkan perangkat waterpass kita dirikan di titik A, bidik rambu P (catat hasil bacaan sebagai baP1, btP1, bbP1). Putar teropong waterpass dan arahkan ke rambu di titik Q (catat hasil bacaan sebagai baQ1, btQ1, bbQ1).
3.      Pindahkan perangkat waterpass ke titik B, bidik rambu P (catat hasil bacaan sebagai baP2, btP2, bbP2). Putar teropong waterpass ke rambu di titik Q (catat hasil bacaan sebagai baQ2, btQ2, bbQ2).
4.      Hitung beda tinggi PQ (∆hPQ1) kedudukan alat di titik A dengan rumus :
                                        ∆hPQ1 = btQ1 – btP1
5.      Hitung beda tinggi PQ (∆hPQ2) kedudukan alat di titik B dengan rumus :
                                        ∆hPQ2 = btQ2 – btP2
6.      Alat waterpass/ penyipat datar disebut bebas kesalahan (garis visir sejajar garis arah nivo) jika nilai ∆hPQ1 = ∆hPQ2
7.      Jika tidak sama, maka ada kesalahan sebesar S =  90/60 x (∆hPQ2  - ∆hPQ1)
Dengan ketentuan Tor = 3 mm

I.         Pengukuran Beda Tinggi (Levelling)
a.    Jarak Pendek (20 m s.d 30 m)
              1. Tentukan 3 buah titik (A,S,B) dengan jarak AB +/- 30 meter (Gambar 2).

2.  Dirikan rambu di titik A dan titik B, sedangkat alat di titik S.
Usahakan jarak AS = BS.
3.    Arahkan teropong ke rambu di titik B (catat hasil bacaan sebagai baB, btB, bbB). Putar teropong waterpass ke rambu di titik A (catat hasil bacaan sebagai baA, btA, bbA).
4.    Hitung beda tinggi AB (∆hAB) dengan rumus :
                                       ∆hAB = btB –btA

     b.    Jarak Panjang (80 m s.d 100 m)
Tentukan dua buah titik yang akan diukur beda tingginya di titik A dan B dengan jarak 100 meter. 
1.      Karena jaraknya panjang, kita harus menentukan titik penggal ke dua titik tersebut (missal P).
2.      Dirikan rambu di titik A, P, B sedang alat kita dirikan di titik S1.
Usahakan jarak AS1 = PS1
3.      Arahkan teropong ke rambu di titik P. Catat hasil bacaan baP1, btP1, bbP1. Putar  teropong dan bidik rambu di titik A. Catat hasil bacaan baA, btA, bbA.
4.      Pindahkan alat ke titik S2. Usahakan jarak AS2 = PS2. Arahkan teropong ke rambu di titik B. Catat hasil bacaan baB, btB, bbB. Putar teropong dan bidik rambu di titik P. Catat hasil bacaan baP2, btP2, bbP2.
5.      Lakukan pengukuran beda tinggi sebanyak dua kali, yaitu pergi (A ke B) dan pulang (B ke A).
6.      Hitung beda tinggi tiap penggal/slag dengan rumus :
∆h = bt muka – bt belakang
7.      Hitung beda tinggi total(AB) dengan menjumlahkan beda tinggi tiap penggal/slag dengan rumus :
∆hAB = ∆hAP + ∆hBP
      H. Analisa Data
             Pengecekan Penyipat Datar
Tabel. Data hasil Pengamatan Pengecekan Penyipat Datar
* ∆hPQ1 =/ ∆hPQ2  (tidak sama dengan)
* Ø  Besar kesalahan     =   90/60  x (∆hPQ2  - ∆hPQ1)
                                    =   0,0135 m
                                    =   13,5 mm
      I.  Kesimpulan
     Dari hasil pengukuran kita dapat mengetahui sudut dalam horizontal dari titik I, titik II dan titik III dengan metode pengukuran tunggal dan seri rangkap menggunakan teodolit fennel kessel besar. Kesalahan sudut dalam (Fs) dari hasil pengukuran mempunyai nilai kurang dari nilai tor Fs, sehingga data pengukuran yang telah diperoleh dapat diterima.

Kamis, 06 Maret 2014

Pengukuran Sudut Horizontal dengan Pengukuran Tunggal dan Seri Rangkap pada Teodolit FK.



A.    Judul
     Pengukuran Sudut Horizontal dengan Pengukuran Tunggal dan Seri Rangkap pada Teodolit FK.

     B.     Tempat dan tanggal
Ø  Tempat             :     halaman belakang Fak. Geodesi & Geomatika
Ø  Tanggal            :     11 dan 15 Oktober 2012

    C.      Tujuan
     Praktikan dapat melakukan pengukuran sudut horizontal dengan cara pengukuran tunggal dan seri rangkap pada teodolit.

    D.    Peralatan yang digunakan :
1.      Teodolit fennel kessel (jenis : besar, 1 buah)
2.      Statip (1 buah)
3.      Unting-unting beserta benangnya (3 buah)
4.      Tripod/ kaki tiga (2 buah)
5.      Patok/ paku paying (3 buah)

     E.     Langkah kerja
     Menentukan 3 titik (seperti gambar I) dengan jarak antar titik masing-masing  +/- 30 meter. Berikan tanda pada titik dengan patok atau paku payung.

1.      Dirikan statip dititik I, atur sentering dengan bantuan unting-unting sehingga lurus tepat diatas titik I. Buat kepala statip sedater mungkin dan setinggi dada praktikan. Setelah sentering pasang teodolit diatas kepala statip, atur sehingga sumbu I vertikal dengan bantuan nivo kotak, nivo tabung alhidade, dan sekrup ABC pada teodolit.
2.      Dirikan tripod bersama unting-unting dititik II dan III. Usahakan unting-unting tepat diatas titik masing-masing.



3.      Pengukuran tunggal dan seri rangkap :
Ø  Arahkan teropong pada titik II (teodolit kedudukan biasa), bidikan benang silang vertikal teropong tepat pada benang unting-unting dengan bantuan klem pengunci dan skrup penggerak halus baik horizontal maupun vertikal.
Ø  Amati dan catat bacaan pada piringan horizontal.
Ø  Buka klem pengunci horizontal dan vertikal, putar sumbu I dan II sehingga kedudukan teodolit luar biasa (kedudukan teodolit luar biasa adalah nivo tabung alhidade disebrang praktikan dan nivo tabung teropong berada diatas teropong)
Ø  Bidikan benang silang vertikal teropong tepat pada benang unting-unting dengan bantuan klem pengunci dan skrup penggerak halus baik horizontal maupun vertikal.
Ø  Amati dan catat bacaan pada piringan horizontal. Ulangi kegiatan 2, 3, dan 4 dengan memindahkan teodolit dan perangkat lainnya secara bergantian di titik I, II, lalu ke-III.

       F.    Analisa Data
Ø  Ketentuan sudut dalam     = (n-2) x 180̊
                                             = (3-2) x 180̊
                                             = 180̊
Ø  Tor Fs   = 60”
                               = 60”
                               = 0̊ 01’ 43,92”
            Tabel. Data hasil Pengamatan
No
Titik Pengamat
Pengukuran
R1
R2
β = R2-R1
Rata-rata β
1
I
Biasa
50̊̊ 24’ 20”
120̊̊ 57’ 20”
70̊̊ 33’ 00”
70̊̊ 32’ 50”


Luar Biasa
230̊̊ 36’ 40”
301̊ 09’ 20”
70̊̊ 32’ 40”
2
II
Biasa
257̊ 19’ 20”
332̊ 04’ 20”
74̊ 45’ 00”
74̊ 45’ 20”


Luar Biasa
77̊ 41’ 40”
152̊ 27’ 20”
74̊ 45’ 40”
3
III
Biasa
69̊ 27’ 40”
104̊ 11’ 00”
34̊ 43’ 20”
34̊ 43’ 10”


Luar Biasa
249̊ 40’ 00”
284̊ 23’ 00”
34̊ 43’ 00”
∑β (jumlah sudut dalam)   =  70̊̊ 32’ 50” + 74̊ 45’ 20” + 34̊ 43’ 10”
                                           = 180̊ 01’ 20"

Fs = 180̊ 01’ 20" - 180̊
     = 00̊ 01’ 20” (memenuhi syarat karena Fs < 0̊ 01’ 43,92”)


      G.    Kesimpulan
     Dari hasil pengukuran kita dapat mengetahui sudut dalam horizontal dari titik I, titik II dan titik III dengan metode pengukuran tunggal dan seri rangkap menggunakan teodolit fennel kessel besar. Kesalahan sudut dalam (Fs) dari hasil pengukuran mempunyai nilai kurang dari nilai tor Fs, sehingga data pengukuran yang telah diperoleh dapat diterima.